Ekonomi dan Bisnis. Pelepasan saham perdana (IPO) PT Garuda Indonesia dan penerbitan saham baru (rights issue) PT Bank Mandiri Tbk berpotensi merugikan negara.
Hal itu didasarkan kepada pelepasan saham disaat kondisi pasar yang sedang tidak baik sehingga tidak mendapatkan harga yang optimal.
"Right issue Bank Mandiri dan IPO Garuda berpotensi merugikan negara," jelas anggota Komisi XI DPR RI, Arif Budiman, Jumat (28/1).
Ia menegaskan, persetujuan DPR untuk IPO ataupun rights issue selalu menyatakan bahwa saham milik negara dilepas dengan harga optimum dengan memperhatikan situasi pasar.
"Itu diabaikan karena sekarang saham sedang anjlok. Pada tahun 2010 rata-rarta saham Mandiri Rp 5.500, nilai tertinggi Rp 7.250, terendag Rp 4.150," tegas Arif.
Selain itu, tambah Arif, pelepasan kedua saham BUMN secara bersamaan merupakan strategi yang salah disaat pemilik modal yang saat ini keluar dari market dan dunia sedang dibayangi krisis jilid 2.
"Karena kondisi butir 1 dan 2 maka terpaksa saham GA dan BMRI diobral alias dijual pada harga minimum/batas bawah," tegasnya.
Ia pun menyatakan, Menteri BUMN diberi kewenangan menunda penjualan saham jika kondisi tidak optimal, namun itu tidak dilakukan.
Garuda melepas saham baru sebanyak 6,33 miliar lembar atau setara dengan 26,67% dari total modal yang ditetapkan.
Porsi ini didiskon dari target semula 30%. Pemerintah telah menetapkan harga IPO Garuda Rp750 per lembar. Dengan demikian, total dana yang didapat mencapai Rp4,751 miliar.
Untuk rights issue Bank Mandiri sendiri, telah ditetapkan pada level Rp5000 per lembar. BMRI melepas 2.336.838.591 lembar saham baru melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) bertujuan untuk menjaga rasio kecukupan modal.
Dengan demikian dana yang berhasil dikumpulkan perseroan sebanyak Rp11,68 triliun.
08:37
Unknown

0 comments:
Post a Comment
Sislahkan tinggalkan sedikit saran, kritikan atau pendapat anda mengenai berita diatas. Berkomentarlah dengan bijak. Terimakasih