Showing posts with label Berita Saham. Show all posts
Showing posts with label Berita Saham. Show all posts

Saturday, 29 January 2011

Saham Bank Plat Merah Masih Menjadi Pilihan di 2011

Saham Bank Plat Merah Masih Menjadi Pilihan di 2011. Analis memperkirakan saham perbankkan plat merah masih menjadi saham pilihan untuk portofolio tahun 2011. Vice President Erdhika Elite Securities Muhammad Reza mengatakan hal ini berdasarkan pertumbuhan kredit hingga kuartal III 2010 sebesar 21,2 persen guna mencapai 22 persen di akhir tahun.

Loan to Deposit Ratio perseroan mencapai 77,06 persen pada september 2010. "Tahun 2011 pertumbuhan kredit mencapai 25 persen dan CAR perbankan akan meningkat menjadi 19 persen terkait rencana rights issue beberapa bank dan LDR tahun 2011 mencapai 85 persen," jelas dia.

Hal yang sama disampaikan oleh Direktur Utama PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk Jerry Ng. "Kami optimis  tahun depan ekspansi kredit kami akan melebihi tahun ini," kata dia. Sepanjang sembilan bulan tahun 2010, ekpansi kredit BTPN mencapai 39 persen.

Perseroan pun saat ini tengah memproses penerbitan saham baru senilai Rp 1,32 triliun. Saham ini akan ditawarkan kepada pemegang saham dengan mekanisme 5:1. Artinya setiap lima saham BTPN yang tercatat berhak atas 1 saham rights issue yang diambil dari portepel.

Dana hasil rights issue ini akan digunakan untuk menambah modal ditempatkan dan modal disetor perseroan menjadi Rp 113,27 miliar dari sebelumnya Rp 94,39 miliar serta ekspansi kredit. Posisi CAR setelah rights issue diperkirakan mencapai 22 persen. Saat ini posisi CAR perseroan sebesar 15,2 persen.

Bank Negara Indonesia juga berencana melakukan pelepasan saham baru guna meningkatkan rasio kecukupan modal (CAR) hingga diatas 20 persen dari posisi saat ini 12,5 persen. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) akan melakukan penerbitan saham baru (rights issue) pada Desember 2010 sebanyak-banyaknya 3.374.716.060 (3,37 miliar) saham bernominal Rp375. Perseroan melepas saham baru tersebut di posisi Rp 3100.

Satu lagi bank pelat merah PT Bank Mandiri Tbk juga berencana untuk melakukan rights issue senilai Rp 14 triliun. Kementrian Badan Usaha Milik Negara memperkirakan eksekusi saham baru Bank Mandiri pada kuartal I atau II tahun 2011.

Adapun rasio kecukupan modal sektor perbankan hingga kuartal ketiga 2010 mencapai 18,6 persen lebih tinggi dari tahun 2009 dilevel 17,4 persen. "Penambahan CAR ini untuk meningkatkan daya ekspasnsi bank itu sendiri," jelas Kepala Riset Bhakti Securities Edwin Sebayang.  Kredit modal kerja mengalami peningkatan merupakan indikasi ada peningkatan bisnis di sektor riil.

Riset Bhakti Securities merekomendasikan empat perbankkan BUMN sebagai pilihan portofolio tahun 2010. Antara lain Bank Rakyat Indonesia, Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia, dan Bank Tabungan Negara. "Fokus pada kredit sektor mikro dengan jaringan luas dan tersebar di seluruh Indonesia, ," kata Edwin.

BRI misalnya sebagai bank dengan portofolio kredit terbesar dan meraih laba besar terbesar di Indonesia. BRI juga berencana untuk mengeluarkan obligasi subdebt guna mempertahankan posisi CAR sebesar Rp 3 triliun dan menurunkan pembayaran dividen menjadi maksimal 30 persen.

Meski begitu sektor ini rentan terhadap kenaikan suku bunga perbankkan. Seiring dengan pemulihan ekonomi global dan peningkatan ekspektasi inflasi, Bank Indonesia (BI) akan mulai merevisi suku bunga acuan, atau yang dikenal sebagai BI Rate. Kebijakan suku bunga acuan sangat ditentukan oleh laju inflasi.


Garuda Indonesia dan Bank Mandiri Lepas Saham Saat Pasar Melemah

Ekonomi dan Bisnis. Pelepasan saham perdana (IPO) PT Garuda Indonesia dan penerbitan saham baru (rights issue) PT Bank Mandiri Tbk berpotensi merugikan negara. 

Hal itu didasarkan kepada pelepasan saham disaat kondisi pasar yang sedang tidak baik sehingga tidak mendapatkan harga yang optimal.

"Right issue Bank Mandiri dan IPO Garuda berpotensi merugikan negara," jelas anggota Komisi XI DPR RI, Arif Budiman, Jumat (28/1).

Ia menegaskan, persetujuan DPR untuk IPO ataupun rights issue selalu menyatakan bahwa saham milik negara dilepas dengan harga optimum dengan memperhatikan situasi pasar.

"Itu diabaikan karena sekarang saham sedang anjlok. Pada tahun 2010 rata-rarta saham Mandiri Rp 5.500, nilai tertinggi Rp 7.250, terendag Rp 4.150," tegas Arif.

Selain itu, tambah Arif, pelepasan kedua saham BUMN secara bersamaan merupakan strategi yang salah disaat pemilik modal yang saat ini keluar dari market dan dunia sedang dibayangi krisis jilid 2.

"Karena kondisi butir 1 dan 2 maka terpaksa saham GA dan BMRI diobral alias dijual pada harga minimum/batas bawah," tegasnya.

Ia pun menyatakan, Menteri BUMN diberi kewenangan menunda penjualan saham jika kondisi tidak optimal, namun itu tidak dilakukan.

Garuda melepas saham baru sebanyak 6,33 miliar lembar atau setara dengan 26,67% dari total modal yang ditetapkan.

Porsi ini didiskon dari target semula 30%. Pemerintah telah menetapkan harga IPO Garuda Rp750 per lembar. Dengan demikian, total dana yang didapat mencapai Rp4,751 miliar.

Untuk rights issue Bank Mandiri sendiri, telah ditetapkan pada level Rp5000 per lembar. BMRI melepas 2.336.838.591 lembar saham baru melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) bertujuan untuk menjaga rasio kecukupan modal.
Dengan demikian dana yang berhasil dikumpulkan perseroan sebanyak Rp11,68 triliun.