Showing posts with label Berita Ekonomi. Show all posts
Showing posts with label Berita Ekonomi. Show all posts

Thursday, 17 March 2011

Asuransi Merugi 12-25 Miliar Dolar Akibat Gempa dan Tsunami Jepang

Asuransi Merugi 12-25 Miliar Dolar Akibat Gempa dan Tsunami Jepang. Bencana gempa bumi dan tsunami Jepang pekan lalu telah mengakibatkan kerugian pertanggungan (asuransi) sebesar antara 12 miliar hingga 25 miliar dolar Amerika Serikat, perusahaan penilaian risiko EQECAT mengatakan Rabu.

EQECAT mengatakan gempa bumi berkekuatan 9,0 skala richter yang melanda Jepang pada Jumat dan diikuti tsunami besar menimbun "kerugian yang signifikan" bagi industri asuransi, demikian AFP melaporkan.

"EQECAT perkiraan total kerugian pertanggungan sebesar 12 - 25 miliar dolar AS," kata perusahaan itu.

"Ini perkiraan kerugian meliputi dampak guncangan gempa bumi, berikutnya tsunami dan kebakaran, dan kerugian untuk mobil, laut, kehidupan, dan bentuk asuransi kecelakaan pribadi," katanya.

Tapi perkiraan kerugian tidak termasuk perkembangan krisis nuklir sejauh Jepang berlomba untuk mencegah bencana di pembangkit listrik tenaga nuklir yang dilanda gempa.






"Perkiraan ini tidak memperhitungkan kerugian yang terkait dengan darurat nuklir saat ini pada pembangkit listrik di wilayah tersebut," kata perusahaan.

EQECAT memperkirakan bahwa antara 2,0 miliar hingg 4,0 miliar dolar dari kerugian tertanggung diperkirakan akan ditanggung oleh Japan Earthquake Reinsurance Pool (Pool Reasuransi Gempa Jepang) milik pemerintah, mengurangi total kerugian asuransi properti non-kehidupan di Jepang.

Gempa bumi paling kuat yang melanda Jepang yang memicu tsunami besar menyapu mobil, struktur dan kapal di sepanjang pantai timur, dan berdampak ke kota-kota pesisir di Pasifik sejauh California Utara.

Prefektur-prefektur di mana gerakan tanah paling kuat, pengukuran berkekuatan 6,0 pada skala intensitas seismik Badan Meteorologi Jepang (JMA), adalah Chiba (utara) dan Ibaraki, Tochigi, Fukushima, Miyagi dan Iwate (selatan), perusahaan pemodelan risiko mencatat.

Tapi prefektur dengan pengamatan signifikan berkekuatan 5,0 termasuk Tokyo, Kanagawa, Saitama, Niigata, Yamagata, dan Aita.

"Pembedaan ini penting -- kerusakan paling parah properti dan aset yang berada di daerah dengan JMA 6, namun kawasan JMA 5 diperkirana memiliki kantong kerusakan tersebar di seluruh wilayah," kata perusahaan.

Bagian terbesar dari kerugian tertanggung akan ditanggung oleh pasar asuransi properti, yang memberikan asuransi gempa bumi untuk individu dan bisnis di Jepang, katanya.

Thursday, 3 February 2011

UKM di Indonesia Dinilai Tahan Banting

UKM di Indonesia Dinilai Tahan Banting. Kondisi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia dinilai 'tahan banting' dalam menghadapi berbagai hambatan ekonomi yang terjadi saat ini.

Anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Sandiaga Uno berharap pemerintah dapat cepat tanggap untuk memberikan kepastian kebijakan untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi pertumbuhan UMKM.

Salah satunya dengan mendorong usaha mikro dengan adanya lembaga keuangan Mikro (LKM) yang saat ini masih terhalang karena mandek-nya pembahasan RUU-nya.

"Harapan kita pemerintah cepat tanggap untuk menurunkan ekonomi biaya tinggi dan memberikan kepastian supaya kondusif. Sekarang sudah cukup membaik (akses) tapi yang kita dorong adalah akses mikronya melalui lembaga keuangan mikro masih terkendala karena RUU LKM-nya mandek lagi. Ini yang kita dorong," kata Sandi saat ditemui di Gedung SMESCO, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (2/2/2011).

Sandi optimistis UMKM Indonesia bisa tetap solid meskipun saat ini banyak hal yang menghadang seperti kebijakan pembebasan bea masuk barang impor.

Menurut Sandi pembebasan bea masuk terhadap barang pangan dan beberapa komoditas nonpangan merupakan upaya pemerintah dalam meredam laju inflasi yang beberapa waktu ini semakin cepat seiring dengan meningkatnya harga pangan dan minyak dunia.

"Pembebasan bea masuk ini ditujukan kepada pengontrol harga-harga supaya menjaga inflasi," ujarnya

Sandi mengakui pembebasan bea masuk ini akan berdampak pada UMKM tetapi kesolidan bisnis tersebut di Indonesia masih bisa meredam arus perdagangan dari luar negeri.

Pasalnya, lanjut Sandi, berdasarkan survey HSBC, hanya 13% UMKM yang terkena dampak perdagangan bebas ASEAN-China (AC-FTA).

"Ini yang kita lihat UKM kita cukup solid untuk menghadapi gejolak harga inflasi dan pangan," ujarnya.

Saturday, 29 January 2011

Cegah Inflasi, BI Rate Ancam Sektor Riil

Ekonomi dan Bisnis. Bank Indonesia (BI) diharapkan tidak serta merta menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) jika memang laju inflasi terus mengalami tekanan.

Kekhawatiran terhadap ancaman krisis pangan dan krisis energi tidak bisa dipungkiri membayangi perekonomian 2011. Pengamat ekonomi dari Econit, Dr. Henry Suparni mengungkapkan, inflasi nasional yang mencapai 6,96% lebih banyak terjadi karena sektor riil dan bukan sektor keuangan.

Menurut Henry, kenaikan suku bunga memang bisa menekan laju inflasi, namun justru sektor riil akan terpuruk karena hantaman kenaikan tersebut. Padahal negara-negara lain justru berupaya menurunkan suku bunga, sehingga inilah yang harus dilakukan terutama untuk menahan aliran hot money dari luar negeri.

"Menaikkan BI Rate akan mengancam sektor riil. Ditambah lagi aliran dana dari luar akan semakin menggelembung, padahal kita sedang berupaya untuk mengontrol devisa. Tapi kita lihat saja karena investor dari sektor keuangan pasti akan bermanuver apapun caranya supaya BI Rate bisa naik," jelas Henry usai acara Prospek Perekonomian 2011 yang digelar Perbamida Jateng-DIY di Patra Semarang  Convention Hotel, Kamis (27/1).

Manatan Gubernur BI, Burhanuddin Abdullah menilai, kenaikan BI Rate bukan satu-satunya solusi untuk menahan laju inflasi. Banyak pertimbangan untuk itu dan disinergikan dengan kebijakan fisikal dan moneter seperti aturan giro wajib minimum (GWM). "Perlu cari cara lain untuk tidak menaikkan BI Rate. Agak dilema juga kalau tetap dipertahankan pengaruhnya ke pasar domestik dan pemasukan modal," ujar Burhanuddin.

Terpisah, ekonom yang juga Komisaris Independen Bank Permata, Tony Prasetiantono menuturkan, Indonesia terlalu euforia dengan inflasi 2009 yang hanya 2,78%. Banyak yang mengira kenaikkannya hanya dikisaran 5-5,3%, tapi kenyataannya akhir tahun 2010 di level 6,96%.

Ancaman inflasi dari luar seperti harga minyak juga dikhawatirkan mendorong laju inflasi.


Tahun 2011, Pendapatan BUMN Ditargetkan Naik 15%

Ekonomi dan Bisnis. Pertumbuhan pendapatan usaha untuk seluruh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diperkirakan akan meningkat 15,12%. Angka tersebut dihasilkan berdasarkan perbandingan antara prognosa pendapatan usaha 2010 dan pendapatan usaha dari RKAP 2011.

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri BUMN, Mustafa Abubakar di kantornya, jalan Medan Merdeka  Selatan, Jakarta (28/1).

"Dari sisi pendapatan usaha, untuk RKAP 2011 ditargetkan akan menghasilkan sebesar Rp 1.294,37 triliun," kata Mustafa.

Dia menjelaskan, pendapatan usaha yang ditargetkan sebesar Rp 1.294,37 triliun tersebut, mengalami peningkatan sebanyak 15,12% dari prognosa pendapatan usaha 2010 sebesar Rp 1.124,33 triliun.

"Secara keseluruhan, kinerja keuangan tumbuh. Tahun 2011, kinerja peningkatan keuangan masih diatas 10% kecuali belanja modal dan belanja operasional. Untuk 2011, target penerimaan negara di bagian laba dianggarkan sebesar Rp27,5 triliun untuk deviden," katanya.

Lebih lanjut ia mengatakan, jika dilihat persektor akan terlihat hampir seluruh sektor menunjukkan pertumbuhan positif, baik dari 2010 maupun 2011. Sektor dengan pertumbuhan terbesar adalah energi," kata Mustafa.

Ia menyebutkan, sepanjang tahun 2010, BUMN dari tiga sektor yakni energi, perbankan dan telekomunikasi berhasil mencetak laba terbesar. BUMN energi masih menjadi juara, dengan total prognosa laba tahun 2010 diprediksi mencapai Rp 36,05 triliun.

"Untuk laba bersih BUMN persektor, paling besar disumbangkan oleh sektor energi, perbankan, dan telekominikasi,"  jelas Mustafa.