EKONOMI DAN BISNIS - Melongok Kelas-Kelas Sekolah Pencetak Calon Bos. Era pengusaha dilahirkan sudah berakhir. Kini adalah zaman pengusaha bisa diciptakan. Karena itu, bermunculan sekolah-sekolah bisnis di berbagai kota. Kurikulumnya pun semakin maju. Mereka tidak lagi fokus menyediakan lulusan siap pakai bagi dunia kerja, melainkan lulusan yang siap menciptakan pekerjaan.
Tingginya kebutuhan SDM dengan bekal kemampuan dan wawasan cukup bagi dunia usaha semakin tak terhindari. Executive Director Prasetiya Mulya Business School Prof Djisman S. Simandjuntak mengatakan, perkembangan dunia usaha harus diimbangi dengan tenaga kerja yang sesuai.
Tak heran, menurut dia, pertumbuhan sekolah bisnis sejak awal era 1990-an sangat cepat, terutama sekolah swasta. ”Sejak saat itu kebijakan ekonomi kita memang mendukung. Pada saat bersamaan, peran swasta dibuka sehingga semakin banyak bermunculan sekolah bisnis,” tuturnya.
Prasetiya Mulya Business School memulai kiprah pada 6 September 1982 dan menjadi sekolah bisnis pertama di Indonesia untuk mencetak lulusan dengan gelar master of business administration (MBA). Mulai 1993, regulasi di Indonesia mengganti gelar MBA dengan magister manajemen (MM) dan program tersebut banyak diminati oleh para profesional di perusahaan-perusahaan untuk menunjang karir.
Sampai saat ini peminat gelar MM sebagai studi lanjutan pascasarjana masih tinggi. Namun, dunia pendidikan di bidang ekonomi sudah harus berpikir untuk mencetak SDM berkualitas lebih dini. Alasannya, kebutuhan mendesak atas tenaga kerja hebat seiring dengan pesatnya pertumbuhan dunia usaha di Indonesia.
Karena itu, kata Djisman, sejak lima tahun lalu pihaknya membuka program S-1 untuk melahirkan para sarjana yang bisa menopang perekonomian. ”Dulu kebanyakan lulusan (S-2) kan masuk ke perusahaan besar dan turut membesarkan perusahaannya. Kami sampai hari ini bangga karena lulusan kami bisa menempati hierarki terhormat di perusahaan masing-masing. Idealnya, setiap sekolah memang melakukan riset terhadap lulusannya di perusahaan tempat bekerja,” ulas pria yang juga menjabat head of Yayasan Centre for Strategic and Inter national Studies (CSIS) itu.
Djisman mengakui, pihaknya memiliki target setiap lulusan berkualitas bisa melakukan perbaikan di perusahaan yang sudah eksis. ”Tetapi, alangkah baiknya masuk ke perusahaan kecil, lalu berjuang membesarkannya. Bahkan, kami sudah mengarahkan mereka untuk membuka usaha sendiri. Yakni, berwirausaha dan menciptakan lapangan kerja baru. Kami sangat mengharapkan para lulusan menjadi pengusaha,” paparnya.
Sejak 2002, Action Coach, sebuah lembaga waralaba international yang melakukan coaching business kepada para pengusaha dan tenaga profesional di perusahaan, mencoba memenuhi kebutuhan itu di Indonesia. Lembaga yang didirikan Bradley J. Sugars di Brisbane, Australia, pada 1993 tersebut sudah menangani ratusan model industri dari ribuan perusahaan di Indonesia.
”Banyak sekali pengusaha di Indonesia yang datang kepada kami karena tiba-tiba perusahaannya sudah besar dan tidak siap menghadapi banyaknya karyawan. Ada juga pengusaha yang baru mulai, tetapi tidak fokus,” ucap Kimin Wongso, business coach dari Action Coach Indonesia, kemarin.
Meski mirip sekolah bisnis, pihaknya menyebut metode pendidikannya dengan istilah coaching karena dilakukan secara privat dan tidak transaksional. Setelah lulus, dalam tempo setahun, pihaknya masih melakukan pengawalan sampai bisa diaplikasikan di lapangan. ”Itulah bedanya dengan konsultan. Hubungan kami tidak semata transaksional,” terangnya.
Action Coach saat ini menangani 300 perusahaan dari berbagai jenis industri dengan masalah be ragam. Namun, pada umumnya, kata Kimin, antara pengusaha besar dan pengusaha kecil memiliki benang merah yang sama.
”Tantangan pengusaha kecil dan besar beda. Tantangan pengusaha besar adalah cara agar tim termotivasi, penuh semangat, kompak, dan punya skill bagus. Sementara itu, pengusaha kecil fokus pada peningkatan penjualan dan omzet,” ulas pria kelahiran Jakarta, 12 November 1975, tersebut.
Sekitar 90 persen siswa Action Coach di Indonesia, kata Kimin, merupakan pengusaha. Selebihnya merupakan tenaga profesional yang ”disekolahkan” oleh perusahaannya. Lembaga ini memiliki 23 coach di seluruh Indonesia serta tersebar di Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Denpasar. ”Coach kami sudah memiliki sertifikat international dari Amerika Serikat. Minimal mereka pernah memimpin di sebuah perusahaan,” ucapnya.
Atas dasar itu, metode pembelajaran menitikberatkan pada pengalaman dan praktik di lapangan. Meski, Action Coach memiliki modulus sebagai kerangka kurikulumnya. Alumnus lembaga tersebut merupakan nama-nama populer di bidang wirausaha, namun Kimin enggan menyebut detail karena alasan etika.
Tidak terkecuali pemilik perusahaan keluarga yang sudah memasuki generasi ketiga. Sang pendiri bingung karena anaknya enggan berkecimpung langsung di perusahaan.
”Kami siapkan beberapa strategi. Misalnya, kami buat sedemikian rupa supaya autopilot bisa jalan tanpa owner-nya ada di dalam. Anaknya tinggal mewarisi untungnya saja. Minimal sudah dapat enaknya dulu, baru ada ketertarikan,” kisahnya.
”Buat saya ini ibarat sepak bola. Pemain sepak bola memang jago main di lapangan. Tapi, tanpa pelatih, kita tidak punya perencanaan dan strategi yang matang, apa lagi untuk jangka panjang. Itulah yang saya rasakan,” kata Rully Adam Mangapul, operation manager bisnis online Rajamobil.com, salah satu lini usaha Plaza Group (Plaza Toyota), saat baru saja menjalani pendidikan di Action Coach kemarin.
BERIKUT SEKOLAH BISNI DENGAN AKREDITAS A:
Tingginya kebutuhan SDM dengan bekal kemampuan dan wawasan cukup bagi dunia usaha semakin tak terhindari. Executive Director Prasetiya Mulya Business School Prof Djisman S. Simandjuntak mengatakan, perkembangan dunia usaha harus diimbangi dengan tenaga kerja yang sesuai.
Tak heran, menurut dia, pertumbuhan sekolah bisnis sejak awal era 1990-an sangat cepat, terutama sekolah swasta. ”Sejak saat itu kebijakan ekonomi kita memang mendukung. Pada saat bersamaan, peran swasta dibuka sehingga semakin banyak bermunculan sekolah bisnis,” tuturnya.
Prasetiya Mulya Business School memulai kiprah pada 6 September 1982 dan menjadi sekolah bisnis pertama di Indonesia untuk mencetak lulusan dengan gelar master of business administration (MBA). Mulai 1993, regulasi di Indonesia mengganti gelar MBA dengan magister manajemen (MM) dan program tersebut banyak diminati oleh para profesional di perusahaan-perusahaan untuk menunjang karir.
Sampai saat ini peminat gelar MM sebagai studi lanjutan pascasarjana masih tinggi. Namun, dunia pendidikan di bidang ekonomi sudah harus berpikir untuk mencetak SDM berkualitas lebih dini. Alasannya, kebutuhan mendesak atas tenaga kerja hebat seiring dengan pesatnya pertumbuhan dunia usaha di Indonesia.
Karena itu, kata Djisman, sejak lima tahun lalu pihaknya membuka program S-1 untuk melahirkan para sarjana yang bisa menopang perekonomian. ”Dulu kebanyakan lulusan (S-2) kan masuk ke perusahaan besar dan turut membesarkan perusahaannya. Kami sampai hari ini bangga karena lulusan kami bisa menempati hierarki terhormat di perusahaan masing-masing. Idealnya, setiap sekolah memang melakukan riset terhadap lulusannya di perusahaan tempat bekerja,” ulas pria yang juga menjabat head of Yayasan Centre for Strategic and Inter national Studies (CSIS) itu.
Djisman mengakui, pihaknya memiliki target setiap lulusan berkualitas bisa melakukan perbaikan di perusahaan yang sudah eksis. ”Tetapi, alangkah baiknya masuk ke perusahaan kecil, lalu berjuang membesarkannya. Bahkan, kami sudah mengarahkan mereka untuk membuka usaha sendiri. Yakni, berwirausaha dan menciptakan lapangan kerja baru. Kami sangat mengharapkan para lulusan menjadi pengusaha,” paparnya.
Sejak 2002, Action Coach, sebuah lembaga waralaba international yang melakukan coaching business kepada para pengusaha dan tenaga profesional di perusahaan, mencoba memenuhi kebutuhan itu di Indonesia. Lembaga yang didirikan Bradley J. Sugars di Brisbane, Australia, pada 1993 tersebut sudah menangani ratusan model industri dari ribuan perusahaan di Indonesia.
”Banyak sekali pengusaha di Indonesia yang datang kepada kami karena tiba-tiba perusahaannya sudah besar dan tidak siap menghadapi banyaknya karyawan. Ada juga pengusaha yang baru mulai, tetapi tidak fokus,” ucap Kimin Wongso, business coach dari Action Coach Indonesia, kemarin.
Meski mirip sekolah bisnis, pihaknya menyebut metode pendidikannya dengan istilah coaching karena dilakukan secara privat dan tidak transaksional. Setelah lulus, dalam tempo setahun, pihaknya masih melakukan pengawalan sampai bisa diaplikasikan di lapangan. ”Itulah bedanya dengan konsultan. Hubungan kami tidak semata transaksional,” terangnya.
Action Coach saat ini menangani 300 perusahaan dari berbagai jenis industri dengan masalah be ragam. Namun, pada umumnya, kata Kimin, antara pengusaha besar dan pengusaha kecil memiliki benang merah yang sama.
”Tantangan pengusaha kecil dan besar beda. Tantangan pengusaha besar adalah cara agar tim termotivasi, penuh semangat, kompak, dan punya skill bagus. Sementara itu, pengusaha kecil fokus pada peningkatan penjualan dan omzet,” ulas pria kelahiran Jakarta, 12 November 1975, tersebut.
Sekitar 90 persen siswa Action Coach di Indonesia, kata Kimin, merupakan pengusaha. Selebihnya merupakan tenaga profesional yang ”disekolahkan” oleh perusahaannya. Lembaga ini memiliki 23 coach di seluruh Indonesia serta tersebar di Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Denpasar. ”Coach kami sudah memiliki sertifikat international dari Amerika Serikat. Minimal mereka pernah memimpin di sebuah perusahaan,” ucapnya.
Atas dasar itu, metode pembelajaran menitikberatkan pada pengalaman dan praktik di lapangan. Meski, Action Coach memiliki modulus sebagai kerangka kurikulumnya. Alumnus lembaga tersebut merupakan nama-nama populer di bidang wirausaha, namun Kimin enggan menyebut detail karena alasan etika.
Tidak terkecuali pemilik perusahaan keluarga yang sudah memasuki generasi ketiga. Sang pendiri bingung karena anaknya enggan berkecimpung langsung di perusahaan.
”Kami siapkan beberapa strategi. Misalnya, kami buat sedemikian rupa supaya autopilot bisa jalan tanpa owner-nya ada di dalam. Anaknya tinggal mewarisi untungnya saja. Minimal sudah dapat enaknya dulu, baru ada ketertarikan,” kisahnya.
”Buat saya ini ibarat sepak bola. Pemain sepak bola memang jago main di lapangan. Tapi, tanpa pelatih, kita tidak punya perencanaan dan strategi yang matang, apa lagi untuk jangka panjang. Itulah yang saya rasakan,” kata Rully Adam Mangapul, operation manager bisnis online Rajamobil.com, salah satu lini usaha Plaza Group (Plaza Toyota), saat baru saja menjalani pendidikan di Action Coach kemarin.
BERIKUT SEKOLAH BISNI DENGAN AKREDITAS A:
- Univ. Indonesia
- Prasetya Mulya Business School
- PPPM Manajemen Univ.Atma Jaya Jakarta
- Univ.Trisakti Jakarta
- Univ. Budi Luhur
- Univ. Gunadarma
- UPI YAI
- Intitut Pertanian Bogor
- Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB
- Sekolah Bisnis dan Manajemen Unpad
- Univ. Kristen Satya Wacana
- Univ.Gajah Mada
- Univ.Diponegoro
- Univ.Islam Indonesia Yogyakarta
- Univ.Atma Jaya Yogyakarta
- Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya
- Univ.Brawijaya
- Univ.Airlangga
- Univ.Sriwijaya
- Univ.Hasanuddin
- Univ. Lampung
13:45
Unknown
