Wednesday, 24 October 2012

Melongok Kelas-Kelas Sekolah Pencetak Calon Bos

EKONOMI DAN BISNIS - Melongok Kelas-Kelas Sekolah Pencetak Calon Bos. Era pengusaha dilahirkan sudah berakhir. Kini adalah zaman pengusaha bisa diciptakan. Karena itu, bermunculan sekolah-sekolah bisnis di berbagai kota. Kurikulumnya pun semakin maju. Mereka tidak lagi fokus menyediakan lulusan siap pakai bagi dunia kerja, melainkan lulusan yang siap menciptakan pekerjaan.

Tingginya kebutuhan SDM dengan bekal kemampuan dan wawasan cukup bagi dunia usaha semakin tak terhindari. Executive Director Prasetiya Mulya Business School Prof Djisman S. Simandjuntak mengatakan, perkembangan dunia usaha harus diimbangi dengan tenaga kerja yang sesuai.

Tak heran, menurut dia, pertumbuhan sekolah bisnis sejak awal era 1990-an sangat cepat, terutama sekolah swasta. ”Sejak saat itu kebijakan ekonomi kita memang mendukung. Pada saat bersamaan, peran swasta dibuka sehingga semakin banyak bermunculan sekolah bisnis,” tuturnya.

Prasetiya Mulya Business School memulai kiprah pada 6 September 1982 dan menjadi sekolah bisnis pertama di Indonesia untuk mencetak lulusan dengan gelar master of business administration (MBA). Mulai 1993, regulasi di Indonesia mengganti gelar MBA dengan magister manajemen (MM) dan program tersebut banyak diminati oleh para profesional di perusahaan-perusahaan untuk menunjang karir.

Sampai saat ini peminat gelar MM sebagai studi lanjutan pascasarjana masih tinggi. Namun, dunia pendidikan di bidang ekonomi sudah harus berpikir untuk mencetak SDM berkualitas lebih dini. Alasannya, kebutuhan mendesak atas tenaga kerja hebat seiring dengan pesatnya pertumbuhan dunia usaha di Indonesia.

Karena itu, kata Djisman, sejak lima tahun lalu pihaknya membuka program S-1 untuk melahirkan para sarjana yang bisa menopang perekonomian. ”Dulu kebanyakan lulusan (S-2) kan masuk ke perusahaan besar dan turut membesarkan perusahaannya. Kami sampai hari ini bangga karena lulusan kami bisa menempati hierarki terhormat di perusahaan masing-masing. Idealnya, setiap sekolah memang melakukan riset terhadap lulusannya di perusahaan tempat bekerja,” ulas pria yang juga menjabat head of Yayasan Centre for Strategic and Inter national Studies (CSIS) itu.

Djisman mengakui, pihaknya memiliki target setiap lulusan berkualitas bisa melakukan perbaikan di perusahaan yang sudah eksis. ”Tetapi, alangkah baiknya masuk ke perusahaan kecil, lalu berjuang membesarkannya. Bahkan, kami sudah mengarahkan mereka untuk membuka usaha sendiri. Yakni, berwirausaha dan menciptakan lapangan kerja baru. Kami sangat mengharapkan para lulusan menjadi pengusaha,” paparnya.

Sejak 2002, Action Coach, sebuah lembaga waralaba international yang melakukan coaching business kepada para pengusaha dan tenaga profesional di perusahaan, mencoba memenuhi kebutuhan itu di Indonesia. Lembaga yang didirikan Bradley J. Sugars di Brisbane, Australia, pada 1993 tersebut sudah menangani ratusan model industri dari ribuan perusahaan di Indonesia.

”Banyak sekali pengusaha di Indonesia yang datang kepada kami karena tiba-tiba perusahaannya sudah besar dan tidak siap menghadapi banyaknya karyawan. Ada juga pengusaha yang baru mulai, tetapi tidak fokus,” ucap Kimin Wongso, business coach dari Action Coach Indonesia, kemarin.

Meski mirip sekolah bisnis, pihaknya menyebut metode pendidikannya dengan istilah coaching karena dilakukan secara privat dan tidak transaksional. Setelah lulus, dalam tempo setahun, pihaknya masih melakukan pengawalan sampai bisa diaplikasikan di lapangan. ”Itulah bedanya dengan konsultan. Hubungan kami tidak semata transaksional,” terangnya.

Action Coach saat ini menangani 300 perusahaan dari berbagai jenis industri dengan masalah be ragam. Namun, pada umumnya, kata Kimin, antara pengusaha besar dan pengusaha kecil memiliki benang merah yang sama.

”Tantangan pengusaha kecil dan besar beda. Tantangan pengusaha besar adalah cara agar tim termotivasi, penuh semangat, kompak, dan punya skill bagus. Sementara itu, pengusaha kecil fokus pada peningkatan penjualan dan omzet,” ulas pria kelahiran Jakarta, 12 November 1975, tersebut.

Sekitar 90 persen siswa Action Coach di Indonesia, kata Kimin, merupakan pengusaha. Selebihnya merupakan tenaga profesional yang ”disekolahkan” oleh perusahaannya. Lembaga ini memiliki 23 coach di seluruh Indonesia serta tersebar di Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Denpasar. ”Coach kami sudah memiliki sertifikat international dari Amerika Serikat. Minimal mereka pernah memimpin di sebuah perusahaan,” ucapnya.

Atas dasar itu, metode pembelajaran menitikberatkan pada pengalaman dan praktik di lapangan. Meski, Action Coach memiliki modulus sebagai kerangka kurikulumnya. Alumnus lembaga tersebut merupakan nama-nama populer di bidang wirausaha, namun Kimin enggan menyebut detail karena alasan etika.

Tidak terkecuali pemilik perusahaan keluarga yang sudah memasuki generasi ketiga. Sang pendiri bingung karena anaknya enggan berkecimpung langsung di perusahaan.

”Kami siapkan beberapa strategi. Misalnya, kami buat sedemikian rupa supaya autopilot bisa jalan tanpa owner-nya ada di dalam. Anaknya tinggal mewarisi untungnya saja. Minimal sudah dapat enaknya dulu, baru ada ketertarikan,” kisahnya.

”Buat saya ini ibarat sepak bola. Pemain sepak bola memang jago main di lapangan. Tapi, tanpa pelatih, kita tidak punya perencanaan dan strategi yang matang, apa lagi untuk jangka panjang. Itulah yang saya rasakan,” kata Rully Adam Mangapul, operation manager bisnis online Rajamobil.com, salah satu lini usaha Plaza Group (Plaza Toyota), saat baru saja menjalani pendidikan di Action Coach kemarin.

BERIKUT SEKOLAH BISNI DENGAN AKREDITAS A:
  • Univ. Indonesia 
  • Prasetya Mulya Business School  
  • PPPM Manajemen   Univ.Atma Jaya Jakarta    
  • Univ.Trisakti Jakarta   
  • Univ. Budi Luhur    
  • Univ. Gunadarma   
  • UPI YAI   
  • Intitut Pertanian Bogor   
  • Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB   
  • Sekolah Bisnis dan Manajemen Unpad    
  • Univ. Kristen Satya Wacana    
  • Univ.Gajah Mada    
  • Univ.Diponegoro     
  • Univ.Islam Indonesia Yogyakarta    
  • Univ.Atma Jaya Yogyakarta    
  • Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya    
  • Univ.Brawijaya   
  • Univ.Airlangga   
  • Univ.Sriwijaya    
  • Univ.Hasanuddin  
  • Univ. Lampung

Friday, 29 April 2011

CEO Bergaji Tertinggi di Dunia

CEO Bergaji Tertinggi di Dunia. Sekitar 20 eksekutif dunia memiliki penghasilan hingga jutaan dolar AS atau setara ratusan miliar rupiah selama 2010. Para chief executive officer (CEO) itu memperoleh kompensasi hingga dua kali lipat bahkan tiga kali lipat selama tahun lalu.

Laporan CNN menyebutkan--mengacu pada riset yang dilakukan oleh Equilar Inc., sebuah perusahaan riset gaji para eksekutif yang berbasis di California, Amerika Serikat--penghasilan yang dihitung itu mencakup gaji yang diterima, pembayaran bonus berdasarkan kinerja, penghargaan berupa saham baru, dan kompensasi lainnya.

Dari hasil riset diketahui bahwa CEO Viacom, Philippe P. Dauman, merupakan eksekutif dengan gaji tertinggi hingga mencapai US$84,46 juta atau setara Rp760,14 miliar selama 2010.

Penghasilan orang nomor satu di perusahaan yang bergerak di bidang media ini berasal dari gaji US$2,625 juta, bonus US$11,25 juta, penghargaan berupa saham baru US$41,83 juta, option granted US$28,62 juta, serta penghasilan lainnya US$141 ribu.

Dauman menjabat sebagai Presiden Direktur dan CEO Viacom sejak September 2006 dan telah menjadi anggota dewan direksi sejak 1 Januari 2006. Jabatan Dauman sebelumnya adalah direktur sejak 1987.

Sebelum bergabung dengan Viacom, Dauman sebelumnya bekerja sebagai co-chairman dan CEO dari sebuah perusahaan private equity, DND Capital Partners LLC yang khusus bergerak di bidang investasi media dan telekomunikasi.

Penghasilan Dauman mengungguli Ray R. Irani yang merupakan pimpinan dari perusahaan minyak Occidental Petroleum. Sebagai bos perusahaan minyak, tahun lalu Irani memperoleh penghasilan sebesar US$76,107 juta atau setara Rp684,96 miliar.

Penghasilan tersebut terdiri atas gaji US$1,191 juta, bonus US$32,97 juta, penghargaan berupa saham baru US$40,25 juta, serta penghasilan lainnya US$1,69 juta. Berbeda dengan Dauman, Irani tidak memperoleh penghasilan dari sumber option granted.

Pria berusia 76 tahun ini sudah menjadi pimpinan dan CEO Occidental Petroleum Corporation sejak 1990 dan menjabat sebagai presiden direktur sejak 2005-2007. Irani akan diangkat sebagai executive chairman pada Mei 2011.

Penghasilan Dauman itu pun mengalahkan CEO dan pendiri perusahaan teknologi informasi, Lawrence J. Ellison, yang memperoleh penghasilan sepanjang 2010 sebesar US$70,14 juta atau setara Rp631,26 miliar.

Sebagai CEO yang telah lama mengendalikan Oracle dari 1977, Ellison mengantongi pendapatan berupa gaji pada 2010 sebesar US$250 ribu.

Penghasilan terbesar eksekutif yang dianggap visioner dalam bidang teknologi informasi ini berasal dari option granted yang mencapai US$61,94 juta. Sementara itu, penghasilan dari bonus sebesar US$6,45 juta. Pundi-pundi uang Ellison semakin gemuk dengan tambahan penghasilan dari sumber lain yang mencapai US$1,49 juta.

Thursday, 17 March 2011

Asuransi Merugi 12-25 Miliar Dolar Akibat Gempa dan Tsunami Jepang

Asuransi Merugi 12-25 Miliar Dolar Akibat Gempa dan Tsunami Jepang. Bencana gempa bumi dan tsunami Jepang pekan lalu telah mengakibatkan kerugian pertanggungan (asuransi) sebesar antara 12 miliar hingga 25 miliar dolar Amerika Serikat, perusahaan penilaian risiko EQECAT mengatakan Rabu.

EQECAT mengatakan gempa bumi berkekuatan 9,0 skala richter yang melanda Jepang pada Jumat dan diikuti tsunami besar menimbun "kerugian yang signifikan" bagi industri asuransi, demikian AFP melaporkan.

"EQECAT perkiraan total kerugian pertanggungan sebesar 12 - 25 miliar dolar AS," kata perusahaan itu.

"Ini perkiraan kerugian meliputi dampak guncangan gempa bumi, berikutnya tsunami dan kebakaran, dan kerugian untuk mobil, laut, kehidupan, dan bentuk asuransi kecelakaan pribadi," katanya.

Tapi perkiraan kerugian tidak termasuk perkembangan krisis nuklir sejauh Jepang berlomba untuk mencegah bencana di pembangkit listrik tenaga nuklir yang dilanda gempa.






"Perkiraan ini tidak memperhitungkan kerugian yang terkait dengan darurat nuklir saat ini pada pembangkit listrik di wilayah tersebut," kata perusahaan.

EQECAT memperkirakan bahwa antara 2,0 miliar hingg 4,0 miliar dolar dari kerugian tertanggung diperkirakan akan ditanggung oleh Japan Earthquake Reinsurance Pool (Pool Reasuransi Gempa Jepang) milik pemerintah, mengurangi total kerugian asuransi properti non-kehidupan di Jepang.

Gempa bumi paling kuat yang melanda Jepang yang memicu tsunami besar menyapu mobil, struktur dan kapal di sepanjang pantai timur, dan berdampak ke kota-kota pesisir di Pasifik sejauh California Utara.

Prefektur-prefektur di mana gerakan tanah paling kuat, pengukuran berkekuatan 6,0 pada skala intensitas seismik Badan Meteorologi Jepang (JMA), adalah Chiba (utara) dan Ibaraki, Tochigi, Fukushima, Miyagi dan Iwate (selatan), perusahaan pemodelan risiko mencatat.

Tapi prefektur dengan pengamatan signifikan berkekuatan 5,0 termasuk Tokyo, Kanagawa, Saitama, Niigata, Yamagata, dan Aita.

"Pembedaan ini penting -- kerusakan paling parah properti dan aset yang berada di daerah dengan JMA 6, namun kawasan JMA 5 diperkirana memiliki kantong kerusakan tersebar di seluruh wilayah," kata perusahaan.

Bagian terbesar dari kerugian tertanggung akan ditanggung oleh pasar asuransi properti, yang memberikan asuransi gempa bumi untuk individu dan bisnis di Jepang, katanya.